Cara Membedakan FLAC Asli dan FLAC Palsu

· 8 menit baca

Kamu mengunduh sebuah album FLAC berukuran 400 MB. Ukurannya meyakinkan, ekstensinya benar, pemutar musik membacanya sebagai lossless. Tapi telingamu bilang ada yang aneh: suaranya datar, bagian atasnya seperti tertutup kain. Kemungkinan besar kamu sedang mendengarkan FLAC palsu.

Apa itu FLAC palsu?

FLAC palsu: sering disebut transcode atau upscale: adalah berkas yang benar-benar berformat FLAC, tapi sumber suaranya berasal dari berkas lossy seperti MP3 atau AAC. Seseorang mengambil MP3 320 kbps, membukanya di aplikasi konversi, lalu menyimpannya ulang sebagai FLAC.

Hasilnya berkas yang secara teknis sah. FLAC memang kompresi lossless, jadi ia menyimpan persis apa yang diberikan kepadanya. Masalahnya, yang diberikan kepadanya sudah rusak duluan.

Analoginya begini: kamu memfoto sebuah lukisan dengan kamera ponsel, mencetaknya di kertas foto berkualitas galeri seukuran satu meter. Kertasnya mahal, cetakannya sempurna, ukurannya besar. Tapi detail yang hilang saat pemotretan tidak akan kembali hanya karena kertasnya bagus. Informasi yang sudah dibuang tidak bisa ditemukan lagi.

Kenapa ini terjadi

Sebagian besar FLAC palsu tidak dibuat untuk menipu. Orang mengunduh MP3 bertahun-tahun lalu, lalu ingin merapikan koleksinya jadi "semua lossless", dan mengonversi seluruh folder tanpa sadar bahwa konversi itu tidak memulihkan apa pun. Berkas itu kemudian dibagikan, disalin lagi, dan setelah beberapa tangan tidak ada yang tahu lagi asalnya.

Sebagian kecil memang disengaja, biasanya di tempat berbagi berkas yang menghargai koleksi lossless lebih tinggi. Tapi niatnya tidak penting untuk telingamu: hasilnya sama.

Tanda pertama: spektrum frekuensi

Ini cara paling andal, dan alasannya masuk akal begitu kamu memahaminya.

Encoder MP3 dan AAC bekerja dengan membuang informasi yang dianggap tidak terdengar manusia. Salah satu hal pertama yang dibuang adalah frekuensi sangat tinggi. MP3 320 kbps biasanya memotong habis segala sesuatu di atas sekitar 20 kHz. MP3 128 kbps memotong jauh lebih rendah, sekitar 16 kHz.

Pemotongan itu meninggalkan jejak yang sangat khas: garis mendatar tegas di spektrum, dengan area kosong sempurna di atasnya. Rekaman asli tidak pernah begitu: energi frekuensi tingginya meluruh bertahap sampai ke batas atas, tidak terpotong rata seperti dipangkas pisau.

Spektrum FLAC asli: energi frekuensi meluruh bertahap hingga 22 kHz tanpa pemotongan mendadak
FLAC asli. Perhatikan bagaimana energinya meluruh perlahan sampai ke atas. Tidak ada garis potong mendadak.
Spektrum FLAC palsu: terlihat garis potong tegas di sekitar 16 kHz dengan area kosong di atasnya
FLAC hasil konversi dari MP3. Garis potong mendatar dan area kosong di atasnya adalah sidik jari encoder lossy.

Untuk melihat spektrum sendiri, kamu bisa memakai Spek (gratis, lintas platform), Audacity lewat menu Analyze → Plot Spectrum, atau foobar2000 dengan komponen Spectrogram. Semuanya menampilkan hal yang sama.

Satu peringatan penting soal spektrum

Garis potong tidak selalu berarti palsu, dan ini sering membuat orang salah menuduh.

Rekaman lama yang dimasterkan dari pita analog kadang memang tidak punya energi di atas 16 kHz, karena peralatan zaman itu tidak merekamnya. Beberapa instrumen akustik memang nyaris tidak menghasilkan frekuensi setinggi itu. Dan sebagian mastering modern sengaja memangkas ujung atas.

Bedanya ada pada ketegasan. Pemotongan encoder lossy sangat rapi dan lurus: ia digambar oleh algoritma. Batas alami dari rekaman tua meluruh dengan tidak rata, berombak, dan berbeda-beda di tiap lagu. Kalau sepuluh lagu dalam satu album punya garis potong di angka yang persis sama, itu bukan kebetulan.

Tanda kedua: ukuran berkas yang tidak masuk akal

FLAC asli dari CD (16 bit, 44,1 kHz) biasanya menghasilkan bitrate antara 700 sampai 1.000 kbps, tergantung kepadatan musiknya. Lagu metal yang penuh cenderung mendekati batas atas; rekaman piano solo yang lapang bisa jauh di bawahnya.

Kalau kamu menemukan berkas FLAC dengan bitrate 400 kbps, itu mencurigakan. Bukan karena FLAC tidak bisa serendah itu, tapi karena musik yang menghasilkan bitrate serendah itu biasanya sangat sunyi. Sebaliknya, FLAC hasil transcode dari MP3 sering justru lebih besar dari yang seharusnya, karena artefak kompresi lossy sulit dikompresi ulang.

Ukuran saja bukan bukti. Tapi kalau ukurannya aneh dan spektrumnya mencurigakan, keduanya saling menguatkan.

Tanda ketiga: metadata yang meninggalkan jejak

Ini yang paling sering terlewat, padahal paling mudah diperiksa.

Alat konversi sering meninggalkan tanda di dalam tag berkas. Kamu mungkin menemukan encoder berisi "LAME3.100" pada berkas yang mengaku FLAC: LAME adalah encoder MP3, dan tidak ada alasan namanya muncul di berkas lossless asli. Kadang ada komentar tersisa seperti "Converted by" diikuti nama aplikasi.

Jejak lain yang lebih halus: FLAC yang dirip langsung dari CD biasanya punya metadata rapi dan konsisten satu album, nomor trek berurutan, tahun sama, artis album seragam. Berkas yang sudah berpindah tangan berkali-kali lewat konversi cenderung punya metadata berantakan, campur bahasa, atau kosong sama sekali.

Tanda keempat: sample rate dan bit depth yang janggal

Kalau kamu menemukan berkas yang mengaku 24 bit / 96 kHz tapi sebenarnya berasal dari CD, itu upscale: variasi lain dari masalah yang sama.

Menaikkan sample rate tidak menambahkan informasi. Ia hanya menghitung nilai di antara titik yang sudah ada, seperti memperbesar foto: pikselnya bertambah, detailnya tidak. Hasilnya berkas tiga kali lebih besar dengan isi informasi yang persis sama.

Petunjuknya lagi-lagi di spektrum: berkas 96 kHz asli punya energi nyata di atas 22 kHz. Hasil upscale dari CD kosong melompong di atas 22 kHz, karena memang tidak ada apa-apa untuk diisi.

Bagaimana EarTea membantu

EarTea tidak menganalisis spektrum: untuk itu Spek atau Audacity tetap alat terbaiknya. Yang EarTea lakukan adalah membaca informasi teknis setiap berkas di koleksimu dan menampilkannya berdampingan, supaya pola yang janggal langsung terlihat tanpa perlu membuka berkas satu per satu.

Saat kamu memindai folder, EarTea membaca sample rate dan bit depth asli tiap berkas, lalu menandai yang benar-benar Hi-Res dengan lencana. Berkas yang mengaku Hi-Res lewat nama folder tapi ternyata 16 bit / 44,1 kHz tidak akan mendapat lencana itu, dan itu sudah cukup untuk membuatmu curiga dan memeriksanya lebih jauh.

EarTea juga merapikan metadata dari MusicBrainz, sehingga jejak-jejak konversi yang tadi disebut: nama encoder yang salah tempat, komentar sisa alat konversi, jadi mudah terlihat sebelum diganti dengan data yang benar.

Seluruh prosesnya berjalan di dalam peramban. Berkas musikmu tidak pernah diunggah ke mana pun.

Coba sendiri: buka EarTea, pilih folder musikmu, dan lihat berapa banyak berkas yang benar-benar mendapat lencana Hi-Res.

Buka EarTea

Ringkasan singkat

Tidak ada satu tanda pun yang menentukan sendirian. Yang meyakinkan adalah beberapa tanda yang saling menguatkan: spektrum dengan garis potong tegas di angka yang sama untuk seluruh album, ditambah metadata yang menyebut encoder lossy, ditambah ukuran yang tidak sesuai dengan karakter musiknya.

Dan satu hal yang perlu diterima: kalau berkasnya sudah palsu, tidak ada cara memperbaikinya. Informasi yang dibuang encoder lossy hilang selamanya. Satu-satunya jalan adalah mencari sumber yang benar. Yang bisa kamu lakukan adalah mengenalinya sejak awal, supaya tidak menghabiskan ruang penyimpanan untuk berkas yang tidak lebih baik daripada MP3 aslinya.